Ketahanan UMKM ditengah Pandemi Covid-19

 

Hamka (Founder Sinar Agung Kota Parepare)


Di Indonesia, UMKM merupakan salah satu bidang usaha yang memiliki peranan cukup penting bagi pertumbuhan ekonomi, selain itu UMKM juga memiliki andil dalam penyerapan tenaga kerja dan distribusi hasil-hasil pembangunan. Dalam sepuluh tahun terakhir, pertumbuhan jumah unit UMKM tahun 2015 – 2020 mengalami peningkatan setiap tahunnya dan rata-rata kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia selama 3 tahun terakhir lebih dari 50 persen. Hal ini membuktikan bahwa UMKM mampu mendongkrak sektor perekonomian masyarakat secara mandiri dan mendukung laju pertumbuhan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Karena itulah UMKM menjadi salah satu sektor usaha yang diunggulkan oleh Bank Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

 

Selain itu dalam pembangunan perekonomian di Indonesia, selain UMKM terdapat UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang selalu digambarkan sebagai sektor yang memiliki peranan penting. Hal ini dikarenakan sebagian besar jumlah penduduknya berpendidikan rendah dan hidup dalam kegiatan usaha kecil baik di sektor tradisional maupun modern. UKM juga memiliki peran yang strategis dalam pembangunan perekonomian masyarakat kalangan bawa, oleh karena itu, selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja juga berperan dalam perindustrian hasil-hasil pembangunan. Usaha kecil adalah usaha yang memiliki tenaga kerja kurang dari 50 orang dan memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.200 juta (di luar tanah dan bangunan) berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995. Usaha kecil ini harus dimiliki oleh warga negara Indonesia dan berbentuk usaha perorangan, badan usaha, atau koperasi. Usaha kecil umumnya adalah perusahaan perorangan, contohnya restoran lokal, warung, pengusaha konstruksi lokal, laundry, dan toko pakaian lokal. Lalu, ada juga namanya usaha musiman yang artinya usaha tersebut bergantung pada musim tertentu. Di sektor jasa, UKM dipandang dapat menjadi usaha masa depan yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta daya saing, dan masuih bisa bertahan dimasa pandemi Covid-19.

 

Disamping itu salah satu jenis usaha jasa yang semakin berkembang dan inovatif di salah satu UMKM yang berkembang pesat adalah cafe dan Warkop (Warung Kopi). Usaha Mikro level kecil, yang dikenal sebagai UKM seperti Warkop merupakan bentuk bisnis jasa resto yang tergolong yang dulu dikelola secara tradisional sudah bergeser ke sistim moderen, yang keberadaannya tetap eksis sejak pandemi melanda negara kita.

 

Pola penyajian menu makanan pendamping selain kopi seduhan cukup khas, dan terkesan seadanya, yang keberadaan warkop atau kedai-kedai kopi tersebut memberikan gambaran perilaku kolektif yang menjadi kebiasaan masyarakat. Dari segi harga juga relatif stabil meskipun harga bahan pokok naik, aktifitas usaha warung kopi ini hanya terpengaruh oleh Peraturan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada jam dan waktu tertentu masih kelihatan ramai. Memang omset penjualan mengalami penurunan akibat pemberlakuan pembatasan sosial tapi tidak sampai drop seperti pada bidang industri dan jasa.

 

Selain itu pada saat ini UKM yang lebih berkembang lagi yang semula hanya usaha kecil-kecilan menjadi industri yang dalam tahapan kecil menengah, yang dikenal dengan sebutan IKM (industri kecil menengah). Warkop (kedai Kopi) dan cafe-cafe yang biasa dipakai tempat berkumpulnya remaja, hingga bapak-bapak yang ada hampir di setiap gang-gang disudut kota semakin bertambah.

 

Menurut penulis, pandemi Covid-19 yang membatasi aktivitas masyarakat telah memaksa para pengusaha untuk semakin menerapkan digitalisasi. Di era pandemi, tidak cukup go digital. Pelaku bisnis sepatutnya benar-benar menjadi bagian dari digital itu sendiri atau berbaur dengan digital.

 

Namun di sisi lain, para pelaku UMKM masih dihadapkan dengan beberapa tantangan, di antaranya dalam hal edukasi di mana para penjual harus memahami fitur-fitur online baru untuk bisa menggunakannya secara tepat. Kedua, adalah dari sisi operasional, terkait fasilitas yang sesuai untuk produksi dan penyimpanan barang dalam ukuran yang lebih besar agar dapat menjaga kualitas produk. Dan ketiga adalah mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten.

 

Penulis menambahkan, pelaku bisnis lebih baik merancang strategi penjualan secara virtual sehingga tidak bergantung pada gerai offline untuk menjual produk pada pelanggan. Dengan langkah ini, pelaku bisnis dapat tetap berhasil di tengah pandemi ataupun periode new normal. Pelaku UMKM tidak hanya harus mengetahui tips berbisnis di tengah pandemi. Namun, sangat penting untuk memahami mengelola finansial yang ada untuk menghindari potensi risiko yang dapat terjadi. Maka dibutuhkan komitmen dan kesungguhan dalam mengelolah keuangan sesuai kebutuhan yang bersifat produktif, dan meminimalisir kebutuhan yang bersifat konsumtif.

Penulis adalah Founder Sinar Agung


Redaksi tvpare.id menerima artikel untuk dimuat di portal kami, baik berupa opini, sejarah dan essay. Dengan syarat tidak mengandung unsur kekerasan, pornography ataupun porno aksi, diskriminasi, serta unsur sarah. Semua tulisan yang kami terima dari netizen adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama