Mappadendang, Wujud Kesyukuran Etnis Bugis Atas Panen yang Melimpah

Foto : Acara Mappadendang atau Mappadekko (KITLV)

 Mappadendang adalah tradisi nenek moyang etnis Bugis terdahulu yang menunjukkan bentuk suka cita dan kesyukuran pada sang Maha pencipta atas hasil panen yang melimpah. 

Ritual adat Mappadendang ini masih kerap kita jumpai pada perkampungan yang dinamai Watang Bacukiki, Parepare. Tradisi ini dilakukan bersama-bersama dengan menumbuk padi dalam lesung panjang dengan lubang enam, hingga dua belas yang disebut Pallungeng, dan menggunakan alat tumbuk yang oleh etnis Bugis disebut Alu. Saat ritual, para pemukul padi menggunakan pakaian khas tradisional bernama Waju tokko atau juga dikenal dengan nama baju bodo.  

Taradisi Mappadendang ini menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan yang menjunjung tinggi nilai religius, kebersamaan, kekompakan dan gotong royong. Musik pengiring yang dihasilkan dari irama Mappadendang ini, dari musik alu yang bertalu-talu sebagai luapan perasaan bahagia dan senang setelah memanen padi. 

Lirik secara spontan melahirkan dan mewujudkan perasaan batin seseorang. Bersama dengan epik dan dramatik termasuk ketiga jenis pokok sastra yang terdapat pada lagu Bugis yaitu Mappadendang  yang artinya berdendang. 

Dalam lirik lagu Mampadendang, itu menceritakan tentang hasil panen yang begitu melimpah dalam hal ini beras, dan menggambarkan semangat para petani yang mengebu-gebu yang sedang bekerja. 

Pada bait pertama sampai ke empat pada lagu itu, menunjukkan bahwa masyarakat Bugis mengajak masyarakat Indonesia yang sedang berkunjung ke Sulawesi Selatan, untuk jalan-jalan ke tanah Bugis guna merasakan gurihnya padi banda yang dipanen oleh masyarakat Bugis. 

Tanah Bugis memang kaya akan sumber daya alam yang melimpah serta tradisi dan budaya yang beragam, tugas kitalah generasi penerus untuk tetap melestarikannya.

PENULIS : Abdillah. MS



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama